Yogyakarta (UGM) – Tim mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Indonesia International Invention Expo (IIEX) 2026 yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Semarang (Polines) bekerja sama dengan Indonesian Young Scientist Association (IYSA). Kompetisi internasional tersebut berlangsung pada 31 Agustus–2 September 2026. Prestasi ini diraih melalui inovasi berjudul “GEMBILIA: Transforming Underutilized Gembili into Functional Snack Bar to Promote Digestive Health and Local Food Diversification.”

Tim yang diketuai oleh Anggistina Wulansari terdiri atas Ratih Dewianty, Rahma Fanidia Rahayu, dan Krissantia Serlin Anjarlina. Tim tersebut mengikuti kompetisi di bawah bimbingan dosen Fakultas Biologi UGM, Wahyu Aristyaning Putri, S.Si., M.Si., Ph.D. Melalui ajang IIEX 2026, tim berkesempatan mempresentasikan gagasan inovatif yang mengangkat potensi gembili (Dioscorea esculenta) sebagai bahan pangan lokal yang belum banyak dimanfaatkan dalam pengembangan produk pangan modern.
GEMBILIA dikembangkan sebagai konsep functional snack bar dengan tepung gembili sebagai bahan utama yang dipadukan dengan bahan pendukung seperti oats, kacang-kacangan, buah, pemanis alami, serta bahan prebiotik. Inovasi ini dirancang untuk menghasilkan makanan ringan yang praktis dengan kandungan serat dan pati resisten yang berpotensi mendukung kesehatan pencernaan. Pemanfaatan gembili juga menjadi bagian penting dari inovasi karena komoditas pangan lokal tersebut memiliki potensi nutrisi, tetapi pemanfaatannya masih relatif terbatas pada konsumsi tradisional.
Pengembangan GEMBILIA tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga mengangkat isu diversifikasi pangan lokal. Pemanfaatan gembili sebagai bahan utama diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah komoditas pangan lokal, mengurangi ketergantungan terhadap bahan pangan berbasis gandum impor, serta mendukung pengembangan sistem pangan yang lebih berkelanjutan. Dengan mengubah komoditas lokal yang selama ini kurang dimanfaatkan menjadi produk pangan fungsional yang lebih praktis dan bernilai tambah, GEMBILIA diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mendukung ketahanan dan diversifikasi pangan di Indonesia.
Dari sisi kesehatan, GEMBILIA memanfaatkan kandungan serat pangan dan pati resisten yang terdapat dalam gembili. Komponen tersebut memiliki potensi untuk mendukung kesehatan pencernaan melalui interaksinya dengan mikrobiota usus dan pembentukan short-chain fatty acids (SCFAs). Penambahan bahan seperti oats dan prebiotik juga dirancang untuk melengkapi karakteristik fungsional produk. Meskipun demikian, pengembangan GEMBILIA masih memerlukan penelitian lebih lanjut, termasuk analisis laboratorium, evaluasi sensoris, validasi manfaat kesehatan, serta kajian kelayakan komersialisasi.
Selain aspek kesehatan dan diversifikasi pangan, GEMBILIA juga memiliki keterkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui penguatan ketahanan pangan dan pemanfaatan sumber pangan lokal, serta SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui potensi kandungan serat, pati resisten, dan komponen prebiotik dalam mendukung kesehatan pencernaan. Pemanfaatan gembili sebagai komoditas lokal juga berkaitan dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) karena berpotensi meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian dan mendukung petani lokal. Di sisi inovasi, GEMBILIA sejalan dengan SDG 9 (Industry, Innovation and Infrastructure) melalui pengembangan produk pangan fungsional berbasis sumber daya lokal.
Keberhasilan meraih Gold Medal pada Indonesia International Invention Expo 2026 menjadi pengalaman sekaligus pencapaian membanggakan bagi tim mahasiswa Fakultas Biologi UGM. Keikutsertaan dalam kompetisi ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk memperkenalkan inovasi berbasis potensi pangan lokal, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mengembangkan gagasan berbasis ilmu pengetahuan yang memiliki nilai kesehatan, ekonomi, dan keberlanjutan. Melalui GEMBILIA, tim berharap potensi gembili sebagai salah satu sumber pangan lokal Indonesia dapat semakin dikenal dan dikembangkan menjadi produk inovatif yang mendukung diversifikasi pangan serta ketahanan pangan nasional [Penulis: Anggistina Wulansari].
