Kulon Progo, 13 September 2026 — Kelompok Tani Hutan (KTH) Manunggal Karya telah berkesempatan menyelenggarakan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan ekowisata di wilayah penyangga Suaka Margasatwa Sermo, bertempat di Sekretariat KTH Manunggal Karya, Bibis, Kalurahan Hargowilis, Kapanewon Kokap, Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan dimulai tepat waktu dan diikuti oleh setidaknya 15 anggota KTH Manunggal Karya. Acara dihadiri oleh Lurah Hargowilis, BKSDA DIY, Dinas Pariwisata DIY, LSM Relung, serta tamu lainnya. Kegiatan ini menghadirkan materi dari Dinas Pariwisata DIY, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada, dan LSM Relung Indonesia berfokus pada pengembangan ekowisata berbasis pendidikan dan pengenalan satwa serta budaya di masyarakat.
Salah satu materi utama bertajuk “Pengembangan Ekowisata Berbasis Keanekaragaman Satwa” disampaikan oleh Rury Eprilurahman dari Laboratorium Sistematika Hewan, Fakultas Biologi UGM. Materi menekankan bahwa potensi keanekaragaman satwa di kawasan Hargowilis–Sermo dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata berbasis pengamatan, edukasi, interpretasi, dan konservasi, bukan untuk eksploitasi satwa. Peserta diperkenalkan pada potensi kegiatan seperti birdwatching, pengamatan tanda keberadaan mamalia, herping secara terbatas dan aman, serta pengamatan kupu-kupu dan serangga.
Kegiatan berlangsung lancar dan mengeksplorasi ide-ide inovatif yang menarik melalui diskusi aktif. Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya pencatatan hasil pengamatan satwa, penyusunan cerita interpretasi bagi wisatawan, kode etik pengamatan satwa, keselamatan kegiatan di lapangan, serta peluang penyusunan Wildlife Trail sebagai bagian dari pengembangan ekowisata KTH. Salah satu pesan penting dari kegiatan ini adalah bahwa “satwa bukan atraksi yang dipaksa muncul; satwa adalah tanda bahwa lanskap masih hidup.”
Sebagai tindak lanjut, KTH Manunggal Karya didorong untuk melakukan survei jalur pada pagi, sore, dan malam hari, memilih jenis atau tanda satwa prioritas, menyusun checklist dan materi interpretasi, melakukan uji coba paket wisata pada kelompok kecil, serta memperbarui data satwa secara berkala. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat peran masyarakat lokal sebagai pemandu sekaligus penjaga keanekaragaman hayati di kawasan Sermo.
Kegiatan ini terutama dapat memberikan dukungan pada SDG 15 – Kehidupan di darat, melalui konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatan ekosistem secara berkelanjutan; sekaligus berkontribusi pada SDG 8 – Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, melalui pengembangan peluang ekonomi berbasis ekowisata lokal, SDG 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, melalui praktik wisata alam yang bertanggung jawab, serta SDG 4 – Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat dalam interpretasi serta konservasi keanekaragaman hayati.



