Program Desa Mitra Wedomartani Tahun 2025, Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui budidaya Ayam Kampung Unggul Balitbangtan (KUB) mulai menunjukkan hasil nyata di Kalurahan Wedomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Program yang dilaksanakan pada tahun anggaran 2025 tersebut berkembang dari pemberian bantuan awal menjadi kegiatan budidaya yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat dan memberikan manfaat bagi pemenuhan kebutuhan pangan keluarga.
Salah satu pengalaman tersebut disampaikan oleh Ibu Sunarti, penerima manfaat program Hibah Desa Mitra 2025 berupa ayam KUB. Dalam wawancara pada Minggu, 20 September 2026, Ibu Sunarti menceritakan perkembangan ayam yang diterimanya sejak awal program hingga saat ini. Dari tiga ekor ayam KUB yang terdiri atas dua ekor betina dan satu ekor jantan, populasi ayam yang dipeliharanya kini telah berkembang menjadi sekitar 40 ekor. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa bantuan ayam tidak berhenti pada pemberian ternak awal. Ayam yang diterima dipelihara dan dikembangkan sehingga menjadi sumber daya produktif bagi keluarga. Sekitar tiga bulan setelah dipelihara, ayam betina mulai menghasilkan telur. Pada masa awal produksi, kedua ayam betina tersebut disebut dapat bertelur secara bergantian.
“Awalnya itu dapat tiga ekor, dua betina satu jantan. Sekarang sudah sekitar 40 ekor,” tutur Ibu Sunarti saat menceritakan perkembangan ayam KUB yang dipeliharanya.
Keberhasilan pemeliharaan tidak terlepas dari perawatan yang dilakukan secara rutin. Ibu Sunarti bersama keluarga menyiapkan kandang khusus, menyediakan air minum, memberikan pakan, serta menjaga kebersihan kandang. Dukungan suami juga membantu dalam proses pemeliharaan dan pengelolaan ayam.
“Kandangnya memang dibuat sendiri, dibantu suami. Air minumnya juga harus bersih, pakannya diberikan, kandangnya dibersihkan,” ujar Ibu Sunarti.
Pertumbuhan populasi ayam juga mulai memberikan nilai ekonomi bagi keluarga. Lebih dari 10 ekor ayam telah dijual dengan harga sekitar Rp50.000 atau lebih per ekor. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ayam KUB tidak hanya berpotensi memenuhi kebutuhan pangan keluarga yang menunjang SDG 2 (Tanpa Kelaparan), tetapi juga dapat menjadi sumber tambahan pendapatan yang menunjang SDG 1 (Tanpa Kemiskinan) dan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi). Menurut Ibu Sunarti, keberlanjutan pemeliharaan juga berkaitan dengan rasa memiliki terhadap bantuan yang diterima. Ketika penerima merasa memiliki ternak tersebut, muncul dorongan untuk merawat dan mengembangkannya. Pertambahan populasi ayam yang kini mencapai sekitar 40 ekor bahkan mulai membutuhkan ruang pemeliharaan yang lebih luas.
“Kalau sudah merasa memiliki, biasanya kita jadi lebih perhatian untuk merawat dan mengembangkan. Sekarang ayamnya sudah banyak, tempatnya juga mulai perlu diperluas,” ungkapnya.
Dalam pemenuhan kebutuhan pakan, Ibu Sunarti juga memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan rumah. Sisa nasi dan bahan pangan rumah tangga lainnya dimanfaatkan sebagai bagian dari pakan ayam. Praktik tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya yang tersedia di tingkat keluarga yang mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkuaitas) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Ke depan, Ibu Sunarti berharap mendapatkan pengetahuan lebih lanjut mengenai pengolahan pakan, khususnya teknik fermentasi. Ia menyampaikan bahwa masih membutuhkan pemahaman yang lebih tepat agar dapat menerapkan teknik tersebut dalam pemeliharaan ayam.
“Kalau untuk fermentasi, kami belum begitu tahu teorinya. Harapannya nanti ada sosialisasi atau pelatihan lagi, supaya kami bisa belajar dan menerapkannya dengan benar,” kata Ibu Sunarti.
Perjalanan dari tiga ekor menjadi sekitar 40 ekor memperlihatkan perkembangan nyata dari program Hibah Desa Mitra di tingkat keluarga. Pertambahan populasi, produksi telur, penjualan sebagian ayam, serta pemanfaatan sumber daya rumah tangga untuk mendukung pemeliharaan menjadi bagian dari proses masyarakat dalam mengembangkan bantuan yang diterima. Bagi Fakultas Biologi UGM, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah ayam yang diserahkan kepada penerima manfaat, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dalam memelihara, mengembangkan, dan memanfaatkan ayam tersebut secara berkelanjutan. Pengalaman Ibu Sunarti menunjukkan bahwa pendampingan dan rasa memiliki dapat menjadi bagian penting dalam mengubah bantuan awal menjadi aset produktif keluarga.
Pengembangan berikutnya masih diperlukan, terutama dalam pengelolaan populasi, penyediaan ruang kandang, peningkatan produktivitas, serta pengembangan pakan alternatif. Kebutuhan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi keberlanjutan pendampingan berbasis ilmu pengetahuan agar budidaya Ayam KUB dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga di Kalurahan Wedomartani yang mengukung SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Kontributor: Tim Hibah Desa Mitra Wedomartani 2025 yang diketuai Prof. Dr. Dra. Rarastoeti Pratiwi, M.Sc.
Pewawancara: Sukarman Hadi Jaya Putra
Tag: SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 4 (Pendidikan Berkuaitas), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).




