Pada tanggal 5 April 2026, mahasiswa Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada peserta Matakuliah Etnobotani tingkat Sarjana (S1) Kelas A, mengikuti kegiatan kuliah lapangan di Museum Kedhaton Yogyakarta. Perkuliahan lapangan ini adalah merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang berbasis kontekstual (contextual teaching and learning), pengalaman (experiential learning), dan sumber daya (resource-based learning). Pendekatan ini menghubungkan materi pelajaran dengan konteks nyata (benda koleksi/sejarah) untuk meningkatkan keterlibatan aktif, observasi langsung, dan berpikir kritis mahasiswa. Matakuliah Etnobotani Kelas A diampu oleh Prof. Dr. Ratna Susandarini, M.Sc. dan Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si.
Pada saat Kuliah Lapangan tersebut sejumlah 31 Mahasiswa didampingi oleh Ludmilla Fitri Untari, S.Si., M.Si., mengikuti perkuliahan yang diberikan oleh narasumber yaitu Kepala Museum Kedhaton (RA Siti Amirul Nur Sundari, Carik Kawedanan Radyo Kartiyoso) dan Staff Ahli Museum Kedhaton (Mas Jajar Praba Hanendra). Selain itu hadir pula salah satu dosen Fakultas Biologi UGM Zuliyati Rohmah, S.Si., M.Si., Ph.D.Eng.
Dalam perkuliahan tersebut mahasiswa mempelajari keanekaragaman tumbuhan dan makna simbolisnya yang dipergunakan dalam berbagai ritual masyarakat Jawa yang merupakan rangkaian siklus hidup (daur hidup) yang komprehensif, dimulai dari Tahap Awal: Kehamilan dan Kelahiran (Siklus Awal Kehidupan) (diawali dengan Mapati (Empat Bulanan), Mitoni / Tingkeban (Tujuh Bulanan), Brokohan, Sepasaran (lima hari), Puputan (Tali Pusar Lepas), Selapanan (35 Hari), dan Tedak Siten (Tujuh Bulanan)); Tahap Tengah: Masa Dewasa dan Perkawinan (Sunatan/Khitanan, Nontoni & Lamaran, Siraman & Midodareni, Pernikahan (Akad/Panggih); dan Tahap Akhir: Kematian (Perjalanan Kembali) (Siklus Akhir Kehidupan), yang bertujuan memohon keselamatan, rasa syukur, dan penghormatan kepada alam semesta. Dalam mempelajari makna simbolis dari setiap spesies tumbuhan yang dipergunakan dalam upacara, maka mahasiswa akan memahami pula mengenai makna spiritual dari ritual Jawa tersebut yang merupakan penjabaran dari hubungan timbal balik antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta, dan manusia dengan Gusti Allah Sang Maha Pencipta.
Kearifan lokal Jawa yang telah diwariskan dari generasi ke generasi ini menjadi aset budaya yang sangat berharga dan patut dipertahankan keberlanjutannya di masa depan. Mahasiswa juga dapat berperan aktif dalam melaksanakan konservasi ilmu pengetahuan tradisional tersebut supaya tidak hilang dari peradaban masyarakat saat ini. Selain itu, Kraton Yogyakarta selain telah melakukan berbagai upaya konservasi pengetahuan etnobotani tersebut juga telah melaksanakan berbagai langkah pelestarian tanaman langka yang memiliki nilai historis dan budaya yang tinggi.
Kegiatan ini turut mendukung tercapainya sejumlah target dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada SDG 4: Quality Education melalui pendekatan pembelajaran yang mengedepankan pengalaman langsung di lapangan; SDG 11: Sustainable Cities and Communities dengan memanfaatkan situs warisan budaya sebagai media edukasi; SDG 12: Responsible Consumption and Production, setelah mahasiswa mengikuti perkuliahan Etnobotani dapat menjaga kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan alam yang bertanggungjawab; SDG 13: Climate Action karena mendorong penguatan literasi lingkungan serta mempererat hubungan antara manusia dan alam; SDG 15: Life on Land melalui peningkatan kepedulian terhadap keanekaragaman hayati; SDG 17: Partnerships for the Goals yang mendorong kerjasama dengan berbagai institusi untuk meningkatkan kualitas pendidikan. – Ludmilla —



