Yogyakarta, 7 September 2023 – Center for Tropical Biodiversity (Centrobio) Fakultas Biologi UGM melaksanakan seminar bertajuk “Muda Mudi Konservasi: Ngobrolin A-Z Tentang Biodiversitas”, yang dilaksanakan secara hybrid dengan daring melalui zoom meeting dan luring bertempat di Auditorium Biologi Tropika Fakultas Biologi UGM. Seminar tersebut diisi oleh dua narasumber diantaranya Ardiantiono, Ph.D. (Cand) dari Durrell Institute of Ecology and Conservation, University of Kent, United Kingdom, dan Dr. Dwi Sendi Priyono, S.Si., M.Si. dari Fakultas Biologi UGM, dan dipandu oleh Akbar Reza, S.Si., M.Sc., serta dihadiri oleh Prof. Dr. Budi Setiadi Daryono, M.Agr.Sc. selaku Dekan, Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni, dan Abdul Razaq Chasani, S.Si., M.Si., Ph.D. selaku Ketua Departemen Biologi Tropika Fakultas Biologi UGM. Seminar tersebut dihadiri oleh lebih dari 200 peserta dari berbagai universitas dan lembaga di Indonesia.
Dr. Eko Agus Suyono, M.App.Sc., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Biologi memberikan sambutannya. Dr. Eko menyampaikan seminar ini merupakan upaya yang baik untuk mengajak muda mudi berpartisipasi dalam pelestarian biodiversitas. Beliau juga mengharapkan kontribusi terhadap konservasi dan biodiversitas tidak terhenti sampai disini namun terus berkesinambungan dan dapat diteruskan oleh pemuda pemudi selanjutnya.
Prof. Budi selaku Dekan selanjutnya memberikan sambutannya pula (7/9), “Centrobio sebagai Pusat Studi Bidang Konservasi dan Biodiversitas menghasilkan benih-benih muda mudi yang sadar akan konservasi dan penggiat pelestarian konservasi”. Prof. Budi juga menyampaikan bagaimana kerja sama Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) yang sejalan dengan Centrobio dalam mendukung konservasi dan pelestarian biodiversitas dan dilanjutkan dengan pembukaan seminar tersebut.
Sesi diskusi selanjutnya dipandu oleh Akbar Reza, S.Si., M.Sc., dengan narasumber pertama Ardiantiono, Ph.D. (Cand). yang membawakan materi bertajuk “Tren Riset Populasi Mamalia di Indonesia: Kesenjangan dan Arah Ke Depan”. Beliau memaparkan ancaman biodiversitas di Era Anthropocene ini diantaranya; tingginya tekanan manusia, ancaman biodiversitas dan penurunan populasi yang signifikan, serta defaunation akibat aktivitas manusia yang menyebabkan ancaman terhadap ekosistem maupun kehidupan manusia itu sendiri, ditambah dengan kurangnya perhatian terhadap ancaman tersebut yang berimbas pada climate change dan biodiversity loss. Ardiantiono selanjutnya menjelaskan tren populasi satwa di Indonesia dan kajian literatur terkait konservasi dan biodiversitas satwa baik jumlah dan tren publikasi hingga distribusi publikasi di seluruh wilayah Indonesia. Kesenjangan yang terjadi dalam lingkup penelitian dan publikasi selanjutnya dipaparkan yang ditunjukkan dengan adanya bias spesies, distribusi kajian yang tidak merata, keterbatasan kajian dengan metode dan analisis yang baik, kurangnya jalian populasi jangka panjang hingga keterbatasan bahasa dan biaya dalam publikasi di tingkat internasional.
Narasumber selanjutnya yaitu Dr. Dwi Sendi Priyono, S.Si., M.Si. yang memaparkan materi bertajuk “Melawan Kejahatan Satwa Liar dengan DNA Forensik”. Dr. Sendi membuka materi dengan pemaparan fenomena juali-beli satwa dilindungi secara illegal serta penganiayaan terhadap satwa liar yang masih banyak terjadi hingga saat ini. Peran DNA Forensik Satwa Liar menjadi penting dalam investigasi terhadap hewan liar maupun spesies yang terancam punah. Beliau menjelaskan setiap makhluk hidup memiliki DNA yang bersifat unik dan analisis DNA berkerja dengan membaca kode dalam tubuh organisme untuk dicocokkan pada database. Analisis tersebut akan menjadi vital saat mengindentifikasi spesimen yang tidak utuh, morfologi satwa yang sangat mirip, maupun penelusuran asal usul satwa. Proses analisis dari pengambilan spesimen, identifikasi, dan analisis lab serta penyimpanan dipaparkan Dr. Sendi beserta kemungkinan kontaminasi yang sebaiknya diantisipasi. Di akhir pemaparannya, Dr. Sendi menyampaikan analisis DNA Forensik Satwa Liar akan terus berkembang di masa depan dan memerlukan peran muda-mudi biology saat ini untuk turut berpartisipasi dalam konservasi dan pelestarian biodiversitas tersebut.
Diskusi dilanjutkan dengan tanya jawab dengan kedua narasumber. Peserta yang hadir sangat antusias dalam menyimak dan menyampaikan pertanyaan menarik selama berlangsungnya seminar. Diharapkan seminar tersebut menjadi langkah yang baik terutama dalam mengajak anak muda dalam berpartisipasi di lingkup pelestarian biodiversitas.
Seminar bertajuk konservasi dan biodiversitas tersebut menunjukkan komitmen Fakultas Biologi dalam perannya dalam pembangunan berkelanjutan sesuai dengan Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yaitu kualitas pendidikan yang baik (SDG 4), aksi penanganan perubahan iklim (SDG 13) serta pelestarian biodiversitas yang berdampak pada kehidupan air dan darat (SDG 14 dan SDG 15).






