Boyolali, 26 Oktober 2026 Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kunjungan koordinasi penelitian ke Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGMb) pada Senin (26/10). Pertemuan ini membahas rencana penelitian perbanyakan anggrek kasut Paphiopedilum javanicum dan peluang penguatan kolaborasi untuk mendukung konservasi anggrek di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu.
Kunjungan tersebut dilaksanakan oleh Prof. Dr. Endang Semiarti, M.S., M.Sc., dosen dari Laboratorium Bioteknologi Fakultas Biologi UGM selaku promotor Elke Gildantia, mahasiswi Program Doktor Biologi UGM, serta sejumlah mahasiswi pascasarjana Fakultas Biologi UGM. Rombongan Fakultas Biologi UGM diterima oleh pihak BTNGM yang terdiri dari Bapak Dr. Nurpana Sulaksono, S.Hut., M.T., Ibu Ir. Kristina Dewi, S.Si., M.Sc., M.Eng., dan Ibu Rusiani, S.Hut., M.P.W.K. Dalam pertemuan tersebut Ibu Rusiani nyampaikan informasi mengenai jenis-jenis-jenis anggrek di G. Merbabu, dan pengelolaanm tantangan serta konservasi anggrek di Merbabu.
Koordinasi ini melanjutkan kerja sama Fakultas Biologi UGM dan BTNGMb yang telah terjalin sejak 2021. Kolaborasi tersebut sebelumnya diwujudkan melalui kegiatan penelitian dan magang mahasiswa, seminar biodiversitas, serta lokakarya dan kajian konservasi. Kerja sama kedua institusi terus diperkuat, antara lain melalui perpanjangan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada awal 2025 dan pengesahan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2025 pada Juni tahun yang sama.
Dalam pemaparannya, Elke Gildantia menjelaskan penelitian mengenai Perbanyakan Tanaman Anggrek Paphiopedilum javanicum untuk Mendukung Konservasi dengan Menggunakan Pendekatan secara “Bioteknologi” sebagai salah satu upaya mendukung konservasi anggrek di kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif pendekatan perbanyakan tanaman untuk melengkapi upaya pelestarian di habitat alaminya sehingga diharapkan dapat mendukung penyediaan bibit untuk konservasi in situ dan ex situ.
Dalam sesi diskusi, pihak BTNGMb kemudian memaparkan perkembangan konservasi anggrek di kawasan Merbabu. Eksplorasi pada 2015 mencatat kurang dari 20 jenis anggrek, sedangkan pendataan berikutnya telah menemukan sekitar 35 jenis. Upaya pelestarian melalui pembangunan demplot anggrek dimulai pada 2017, tetapi pelaksanaannya menghadapi sejumlah kendala. Demplot pernah rusak akibat puting beliung pada 2019 dan kembali mengalami kerusakan pada 2024. Pada 2026, perbaikan demplot di Bumi Perkemahan Sobleman tengah diupayakan.
Pemindahan koleksi anggrek juga menjadi tantangan karena masing-masing jenis memiliki kebutuhan suhu, kelembapan, dan kondisi lingkungan yang berbeda. Dari pengalaman pengelolaan demplot, pihak balai mencatat bahwa beberapa anggrek mampu berbunga, menghasilkan buah melalui penyerbukan alami, dan memunculkan anakan pada batang pinus yang digunakan sebagai media tumbuh. Pengalaman tersebut menjadi bahan pertimbangan dalam merancang upaya konservasi yang sesuai dengan karakter habitat anggrek.
Salah satu jenis yang menjadi perhatian khusus adalah Paphiopedilum javanicum. Berdasarkan data yang disampaikan pihak BTNGMb dalam diskusi, terdapat sekitar 192 individu yang tercatat pada 12 plot pengamatan. Area yang dibahas sebagai habitat potensial spesies ini mencakup sekitar 491,71 hektare atau 8,45% dari luas kawasan taman nasional. Sebagian lokasi pertumbuhannya berada di zona tradisional yang masih diakses masyarakat, termasuk untuk pengambilan rumput pakan ternak. Kondisi ini menambah tantangan dalam pemantauan populasi dan perlindungan anggrek di alam.
Penelitian yang dipaparkan Elke dinilai relevan dengan arah kajian BTNGMb mengenai strategi konservasi P. javanicum. Melalui diskusi ini, kedua pihak saling bertukar informasi mengenai kondisi populasi, karakter habitat, dan pengembangan metode perbanyakan anggrek. Koordinasi tersebut diharapkan menjadi landasan bagi kegiatan penelitian yang dapat memberikan masukan ilmiah untuk pengelolaan konservasi anggrek secara berkelanjutan.
Penelitian Elke Glldantia didukung oleh Kementerian Pendidikan, Sains dan Teknologi RI dengan Hibah Penelitian Disertasi Doktor (PDD) tahun 2026-2027. Kegiatan diharapkan secara berkelanjutan dapat mendukung konservasi anggrek di BTNGMb dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan pengembangan metode konservasi anggrek, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerjasama penelitian antara Fakultas Biologi UGM dan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu.





