Yogyakarta, 18 Juli 2026 – Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) sukses menyelenggarakan Biodiversity Summit 2026 bertajuk “From Data to Decisions” pada Sabtu (18/7) di Auditorium Biologi Tropika, Fakultas Biologi UGM. Kegiatan yang menjadi puncak rangkaian International Summer Course on Sustainable Development 2026 ini menghadirkan akademisi, praktisi, organisasi non-pemerintah, serta mahasiswa untuk bersama-sama mendiskusikan bagaimana ilmu pengetahuan dan data biodiversitas dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Program yang diselenggarakan secara luring di Fakultas Biologi UGM ini merupakan hasil kolaborasi antara Fakultas Biologi UGM, Departemen Teknik Geologi, Fakultas Teknik UGM, dan University of Technology Sydney (UTS), Australia, melalui dukungan pendanaan New Colombo Plan (NCP) Australia, Hibah EQUITY Inovasi dan Internasionalisasi Akademik serta PT Dynata Inovasi Corporalab.
Biodiversity Summit diikuti oleh 45 peserta, termasuk 36 peserta International Summer Course yang telah mengikuti seluruh rangkaian program selama dua minggu terakhir, mulai dari sesi perkuliahan, praktikum, eksplorasi lapangan, hingga penyusunan esai ilmiah berdasarkan pengalaman belajar mereka. Melalui summit ini, peserta memperoleh ruang untuk mengembangkan gagasan, bertukar perspektif, dan memperluas jejaring dengan berbagai pemangku kepentingan di bidang konservasi biodiversitas.
Membuka kegiatan tersebut, Prof. Dr. Eko Agus Suyono, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni Fakultas Biologi UGM, menyampaikan harapannya agar Biodiversity Summit tidak hanya menjadi forum berbagi pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan generasi muda yang berani mengambil peran dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati.
“Today’s Biodiversity Summit will inspire each of us not only to generate knowledge but also to become agents of change,” ungkap Prof. Eko dalam sambutannya.
Setelah sesi pembukaan, peserta mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang dibagi ke dalam empat tema sesuai dengan topik esai yang telah disusun sebelumnya, yaitu Drone Mapping and GIS for Biodiversity Conservation and Management, Science Communication: Data to Policy in Tropical Biodiversity and Sustainable Development, Tropical Biodiversity in Changing Climate, serta Sequencing Technology for Biodiversity Conservation and Management. Dalam diskusi tersebut, peserta dari berbagai latar belakang akademik dan negara saling bertukar gagasan, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam upaya konservasi biodiversitas.
Hasil diskusi kemudian dipresentasikan oleh perwakilan masing-masing kelompok dalam forum pleno. Sesi ini memberikan kesempatan bagi seluruh peserta untuk memperoleh masukan dari peserta lain maupun para narasumber, sekaligus memperkaya perspektif terhadap berbagai pendekatan ilmiah dan implementatif dalam pengelolaan keanekaragaman hayati.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan talkshow yang menghadirkan para praktisi dari berbagai sektor. Pada sesi pertama, Fengky Wiradga dari WWF Indonesia memaparkan pengalaman WWF dalam menjalankan Forest Landscape Connectivity Program di Kalimantan Tengah, yang berfokus pada pemulihan ekosistem gambut dan pembangunan koridor satwa liar untuk menghubungkan kawasan hutan yang terfragmentasi. Sementara itu, Citra Septiani dari World Resources Institute (WRI) Indonesia membagikan pengalaman mengenai bagaimana hasil riset dapat dijembatani menjadi dasar pengambilan kebijakan melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengembangan Ocean Calculator sebagai instrumen pendukung pengelolaan ekosistem pesisir dan laut.
Pada sesi kedua, Cania Citta, Co-Founder Malaka Project, menyampaikan presentasi bertajuk “Nurturing Scientific Culture”, yang mengangkat pentingnya membangun budaya ilmiah di kalangan generasi muda melalui komunikasi sains dan kolaborasi lintas sektor. Sementara itu, Amelia Nugrahaningrum dari Yayasan GeNau Indonesia membagikan kisah tentang pengembangan GeNau Foundation sebagai model community empowerment yang mengintegrasikan pengelolaan biodiversitas dengan pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, sehingga konservasi alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan, mulai dari diskusi kelompok, sesi presentasi, hingga talkshow interaktif bersama para narasumber. Berbagai pertanyaan dan gagasan yang muncul menunjukkan tingginya kepedulian generasi muda terhadap isu konservasi biodiversitas serta pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam menjawab tantangan lingkungan global.
Sebagai penutup, panitia memberikan penghargaan kepada peserta dengan esai terbaik pada masing-masing kategori sebagai bentuk apresiasi terhadap kualitas gagasan dan inovasi yang ditawarkan. Seluruh peserta kemudian bersama-sama mengucapkan Youth Action Pledge, sebuah deklarasi komitmen untuk menjadi pelindung biodiversitas yang siap berkontribusi dalam perlindungan, pengelolaan, dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan di masa depan.
Melalui Biodiversity Summit 2026, Fakultas Biologi UGM kembali menegaskan perannya sebagai ruang kolaborasi antara akademisi, praktisi, organisasi masyarakat sipil, dan generasi muda dalam mendorong pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk menjawab tantangan konservasi biodiversitas. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan pembelajaran berbasis kolaborasi dan pengalaman, SDG 13 (Climate Action) melalui diskusi solusi berbasis sains terhadap perubahan iklim, SDG 15 (Life on Land) melalui penguatan kapasitas dalam konservasi keanekaragaman hayati, SDG 14 (Life Below Water) melalui pembahasan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui sinergi antara perguruan tinggi, organisasi non-pemerintah, komunitas, dan mitra internasional dalam membangun masa depan biodiversitas yang berkelanjutan.












