Yogyakarta – Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut terpenting di planet ini. Menurut Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Budi Setiadi Daryono, kekayaan biodiversitas laut Indonesia harus dipandang bukan sekadar sumber daya yang dieksploitasi, melainkan sebagai fondasi utama pembangunan ekonomi biru (blue economy) berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan teknologi.
Fakultas Biologi UGM memiliki pandangan bahwa masa depan ekonomi maritim Indonesia dan dunia sangat bergantung pada kemampuan mengelola kekayaan hayati laut secara berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi. Hal ini disampaikan oleh Budi Setiadi Daryono selaku Dekan Fakultas Biologi dan Narasumber dalam National acara Policy Dialogue bertajuk Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan yang diselenggarakan pada Jumat, 22 Mei 2026 di Balai Senat UGM.
Indonesia menempati posisi yang sangat strategis karena berada di kawasan Coral Triangle (Segitiga Terumbu Karang), wilayah yang dikenal sebagai pusat biodiversitas laut dunia. Indonesia menjadi rumah bagi lebih dari 76% spesies karang perairan dangkal dunia dan sekitar 37% spesies ikan karang dunia.
Tidak hanya itu, Indonesia juga memiliki sekitar 21% spesies lamun dunia dan 21% tutupan mangrove global, menjadikannya salah satu paru-paru ekosistem laut terbesar di dunia. Kekayaan ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam pengembangan ekonomi biru global yang berkelanjutan.
Kontribusi Indonesia terhadap ekonomi biru tidak hanya berasal dari sumber daya perikanan. Ekosistem pesisir seperti mangrove, lamun, dan terumbu karang berperan sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon sink yang sangat efektif.
Keberadaan ekosistem tersebut membantu mengurangi emisi karbon, menjaga stabilitas iklim global, serta memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karena itu, upaya konservasi ekosistem pesisir Indonesia sesungguhnya merupakan investasi strategis bagi keberlanjutan ekonomi dunia.
Fakultas Biologi UGM menegaskan bahwa laut bukan hanya tempat menangkap ikan. Laut menyimpan potensi besar sebagai sumber bahan baku bernilai tinggi untuk industri farmasi, kosmetik, pangan fungsional, dan bioteknologi modern.
Salah satu bidang yang menjanjikan adalah penelitian mikrobioma laut, yaitu eksplorasi mikroba dan virus laut yang berpotensi menghasilkan enzim industri, senyawa antimikroba, hingga biokatalis untuk berbagai kebutuhan teknologi masa depan.
Selain itu, percepatan hilirisasi rumput laut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk kelautan Indonesia. Rumput laut tidak lagi hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat dikembangkan menjadi nutraseutikal, bahan baku industri kesehatan, serta produk berbasis bioekonomi lainnya.
Prof. Budi Setiadi Daryono menekankan perlunya perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya laut. Jika selama ini laut lebih banyak dipandang sebagai ruang eksploitasi sumber daya alam, maka ke depan laut harus ditempatkan sebagai “Living Laboratory” (Laboratorium Hidup) yang menghasilkan pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Paradigma baru ini menjadi bagian dari visi besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai Maritime Innovation Powerhouse atau pusat inovasi maritim dunia. Dalam konsep ini, nilai ekonomi tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah hasil tangkapan, tetapi oleh kemampuan menghasilkan data, riset, teknologi, dan produk inovatif berbasis biodiversitas laut.
Meskipun memiliki potensi luar biasa, Fakultas Biologi UGM melihat masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, antara lain lemahnya hilirisasi produk kelautan dan belum sinkronnya tata kelola ruang laut antar sektor.
Untuk mempercepat pengembangan ekonomi biru, Fakultas Biologi UGM mengusulkan beberapa langkah strategis yang dapat segera diwujudkan, antara lain:
- Mengintegrasikan produk kelautan ke dalam program ketahanan pangan nasional dan percepatan penurunan stunting.
- Memperkuat rantai pasok pangan laut serta sistem jaminan mutu produk kelautan.
- Memfokuskan program bioprospeksi laut pada komoditas prioritas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang komersialisasi yang jelas.
- Mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam pengembangan inovasi maritim berbasis sains.
Dengan kekayaan biodiversitas laut yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin ekonomi biru dunia. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat dicapai apabila pengelolaan sumber daya laut dilakukan melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, inovasi, dan keberlanjutan. Bagi Fakultas Biologi UGM, masa depan laut Indonesia bukan sekadar tentang sumber daya alam, melainkan tentang bagaimana biodiversitas dapat diubah menjadi kekuatan ilmu pengetahuan dan kesejahteraan bagi generasi mendatang.





